Dangerous Friendship/FF/YAOI/Kyumin Couple/Part 2
Saturday, 26 March 2011
Author : Park Eun Kyung
Cast:
Sungmin
Kyuhyun
Ryeowook
Yesung
Shindong
Kibum
Song Hye Kyo = Yoon Hana
Genre :YAOI
Length: 2 of ?
Summary :Terinspirasi dengan drama buatan Sungmin kira-kira 2 tahun yang lalu di M-net Mini Drama, kompetensi buat drama sebagus-bagusnya antara team Sungmin dan team Eunhyuk. Happy Reading !!^^
Aku masih tertegun dibawah tubuhnya, bisa ku cium dengan jelas wangi tubuhnya. Kurasa dia memakai pewangi yang cukup mahal. Mungkin aku bisa membelinya jika aku tidak mengisi perutku selama dua bulan. Kami dalam posisi tidak wajar, terlalu dekat, membuatku dapat merasakan nafasnya yang keluar masuk dari hidungnya, terasa begitu jelas. Membuatku bisa menatap lekuk-lekuk wajahnya, menatap bekas-bekas jerawatnya kurasa, menatap lebih dalam lagi di kedua matanya, dan posisi ini, benar-benar membuat hatiku, entah aku tidak bisa menjelaskannya, senang tapi entah, begitu rumit. Dia, Kyuhyun masih berada di atas tubuhku, kedua tangannya menompang tubuhnya agar tidak benar-benar jatuh menimpa tubuhku. Wajahnya dan wajahku, hanya beberapa senti. Matanya berputar-putar menatapku, entah apa yang dia cari dalam wajah atau mataku, aku benar-benar tidak mengerti dengan yang sedang dia lakukan. Ku lihat bibir tipis merah mudanya, tak ada senyuman. Ekspresi wajahnya, seperti biasa, datar dan dingin. Namun ada sesuatu yang membuatku merasa begitu nyaman, entah apa. Mungkin auranya yang selalu membuatku merasa hangat dan nyaman ketika aku bersamanya. Atau mungkin juga karena banyak kemiripan antara dia dan perempuan lamaku, Hye Kyo, yang harus ku akui dia telah meninggalkanku dan tidak akan pernah kembali lagi untukku. Ku lihat wajahnya, wajah Kyuhyun yang masih beberapa senti dari wajahku, perlahan-lahan mulai bergerak. Bukan menjauh, namun mendekat. Mendekat hingga ujung bibirku mengenai ujung bibirnya. Apa yang akan dia lakukan padaku? Entah karena shock atau apa, sontak ku pejamkan kedua mataku, pasrah dengan apa yang akan selanjutnya Kyuhyun lakukan padaku. Akan kah dia menciumku untuk kedua kalinya? Jantungku, bisa ku rasakan berdegup kencang, tak menentu. Sekilas ada perasaaku mengatakan bahwa aku begitu senang jika dia menciumku untuk kedua kalinya.
“Ya! Kyuhyun-ah! Apa yang kau lakukan padanya?” Lagi-lagi Shindong, dia merusak suasanaku, menarik bahu Kyuhyun hingga ia terjatuh di sampingku. Pernah suatu saat dia memergokiku ketika bibirku hendak sampai di bibir Hye Kyo, gagal aku melakukannya, Hye Kyo hanya terkikik geli saat itu. Satu-satunya orang yang pernah menyentuh bibirku, kurasa dia, Kyuhyun yang pertama.
Sontak karenanya, aku segera membuka kedua mataku. Menghela nafas panjang, lega karena Kyuhyun tidak menyentuh bibirku untuk kedua kalinya. Namun entah, aku merasakan hal yang lain, benci karena Kyuhyun gagal menyentuh bibirku untuk kedua kalinya, dan benci karena Shindong lagi-lagi memergokiku. Kyuhyun segera bangkit dari tempatnya, dan berdiri. Menepuk-nepuk kedua tangannya, seakan tangannya baru saja terkena pasir atau sampah lain. Kemudian dia tertunduk, kedua tangannya membentuk sebuah kepalan, tangannya bergetar. Sempat ku kira dia akan memukul wajah Shindong, tapi cepat-cepat ku singkirkan pikiran itu dari otakku. Kyuhyun pria baik, sangat baik. Dan dia menoleh ke arahku, manatapku kosong, sedikit ku rasakan dari sorot matanya perasaan bersalahnya, karena melakukan sesuatu yang janggal padaku. Lalu ku arahkan mataku ke arah kepalan tangannya, mulai melemas.
“Kau tidak dengar! Apa yang kau lakukan padanya?” Shindong, kurasakan suaranya makin meninggi. Awas saja jika dia berani menyentuh Kyuhyun.
“Tidak. Aku hanya menbraknya dan kami terjatuh” Kyuhyun menatapku, kemudian mengulurkan tangannya padaku. Aku tersenyum tipis padanya, ku anggap itu simbol rasa terima kasihku padanya kemudian meletakkan tangan kananku ke tangannya. Ku rasakan tangannya, begitu berkeringat, aku mengabaikan alasan mengapa tangannya begitu berkeringat. Kyuhyun mengenggam tanganku erat, dan menarikku perlahan, membuatku terhenyak dari posisiku dan berdiri seutuhnya dengan kedua kakiku.
“Benarkah itu, Sungmin-ah? Kau baik-baik saja?” Shindong bertanya padaku, sepertinya dia ragu akan Kyuhyun. Benar dugaanku, dia membenci Kyuhyun.
“Ne! Itu benar dan dia menolongku” Aku menjawabnya seketus yang aku bisa, menghembaskan tangannya dari bahuku.
“Ya! Sungmin, kau sungguh baik-baik saja?”
“Kau tidak lihat? Aku bahkan tidak tergores sedikitpun” Suaraku mulai meninggi, betul-betul kesal dengan Shindong.
Aku pun berlalu meninggalkannya, malas menghadapi perawakan orang seperti Shindong. Terlalu mengintrogasi, menganggapku seperti anak kecil tak berdaya, dan aku sangat membencinya. Kemudian aku membereskan sepraiku, yang baru ku sadari terpelanting hingga sekitar tiga langkah lagi dekat ruang Serba-Guna itu. Kyuhyun membantuku, menyuruhku untuk menunggunya meletakkan seprai sapphire blue ini ke dalam ruangan Serba-Guna dan memasangkan seprai merah mudaku di kasurku, sehingga tugasku hanya menjatuhkan tubuhku ke atasnya dan tertidur. Dan sebelum Kyuhyun meninggalkan kamarku dan aku tertidur, Kyuhyun tersenyum padaku, meminta maaf untuk beberapa kali padaku, aku hanya tertawa geli melihat tingkahnya ketika meminta maaf padaku. Dan seperti Hye Kyo, Kyuhyun mengembungkan kedua pipinya, sebal karena aku bersikap tidak serius ketika dia meminta diriku untuk serius. Kemudian dia mengucapkan selamat malam padaku, seperti Hye Kyo, dia menyisipkan kata “Pumpkin” di dalam kata-katanya, tersenyum, dan mematikan lampu kamarku. Benar-benar Kyuhyun dan Hye Kyo adalah sama. Segala tentang Hye Kyo dimiliki Kyuhyun. Oh, apa yang terjadi padaku? Apakah aku menyukai seorang pria? Sadarkah kau bahwa itu adalah kesalahan besar jika kau menyukai seorang pria? Kau gila Sungmin? Benar-benar tidak waras jika kau menyukai pria itu? Tapi dia seperti Hye Kyo? Dan Sungmin sangat menyukai Hye Kyo. Hye Kyo adalah Kyuhyun dan Kyuhyun adalah Hye Kyo. Dan bila Sungmin menyukai Hye Kyo dan itu tidak salah, maka bila Sungmin menyukai Kyuhyun tentu itu juga tidak salah. Ah, sudahlah. Aku ingin tidur dan mengakhiri teoriku tentang Kyuhyun dan Hye Kyo, benar-benar membuat isi kepalaku ingin meledak. Hanya satu pertanyaanku yang belum terjawab, Ada apa dengan Kyuhyun dengan Hye Kyo?
Hari ini, ku pikir ini adalah hari yang cerah, suhu udara normal, aku melihatnya di berita cuaca di televisi. Ku putuskan untuk pergi keluar, sekedar menikmati hari ini, dan mencari map dan mungkin album foto. Sudah tradisiku, sebulan sekali membelinya, hanya sekedar untuk mengumpulkan sesuatu yang menurutku berharga, seperti kau tahu apa misalnya, surat-surat berharga, atau barang-barang peninggalan Hye Kyo, banyak kertas-kertas puisi tulisan tangannya yang diberikannya padaku, sebagian belum aku simpan didalam satu tempat, atau mungkin hasil jadi lukisanku, aku tidak buruk dalam melukis. Sedangkan album foto, aku melanjutkan hobi Hye Kyo, dia pintar mengambil gambar, sekedar mencoba menjajal profesi sebagai fotografer ulung. Dan sebuah toko tempat langgananku untuk berbelanja keperluanku, tidak jauh dari apartemenku, ku jadikan tempat sasaran kunjunganku hari ini. Hanya perlu waktu 15 menit berjalan kaki dari apartemenku hingga ke toko ini.
Sesampainya di toko ini, ku arahkan kaki-kakiku ke tempat biasa, dimana aku biasa mencari sebuah map dan album foto yang bisa aku beli. Tempatnya tidak terlalu sempit dan tidak terlalu lebar, setidaknya cukup dilewati seorang saja. Mencari-cari sebuah map dengan telunjukku terarah di sebuah rak besar penuh barang. Kadang meletakkan tanganku dan mengambil sebuah dari rak tersebut, dan bukan map yang seperti yang ku inginkan. Sekali lagi, dan mataku terhenti di sebuah map hitam tak jauh dari jangkauanku. Dan aku meletakkan tanganku dan berusaha untuk menarik map hitam itu dari tempatnya, namun sesuatu menghentikanku. Sebuah tangan, milik orang lain tentu, memegang tanganku, tepat berada di punggung tanganku, mungkin hendak mengambil map yang sama denganku. Mataku terarah ke tangan putih pucat itu, kurasa aku mengenali pemiliknya. Kemudian ku geserkan tulang atlasku 45 derajat ke arah kanan, mencari pemilik tangan pucat ini. Dan dia lah disana, sedang menatapku seperti yang sering ia lakukan padaku, Kyuhyun, tangan ini miliknya.
“Ah, kau juga membutuhkan ini?” Dia mengalah padaku, dan akhirnya aku yang menarik map hitam ini dari rak besar dengan tanganku. Aku tersenyum ramah padanya.
“Begitulah. Aku memakainya juga, sekedar untuk menyimpan kertas-kertas.” Kyuhyun menatapku dan tersenyum.
“Jarang sekali ada orang yang membutuhkan map seperti ini” Dan kali ini senyum Kyuhyun telah membuatku mati gaya.
Map hitam dan album foto, aku pikir sudah cukup. Tidak ada lagi yang ku butuhkan. Mungkin sedikit udara atau alat bantuan pernafasan, benar-benar sulit menghirup oksigen ketika senyumannya menghantamku. Yang ku perlukan saat ini hanya membayar barang-barangku di kasir dan keluar dari tempat ini. Aku membutuhkan banyak udara agar terlihat rileks. Ku letakkan barang-barangku di sebuah meja kasir, menunggu si penjaga selesai menghitung total belanjaku. Seperti sebuah dorongan entah dari mana asalnya, aku menoleh, Kyuhyun menatapku dan tersenyum padaku, meletakkan barang-barang yang sama seperti barang yang aku beli di sebelahku. Benarkah ia memerhatikanku sejak tadi? Dan baru ku sadari, lagi-lagi bersangkutan dengan Hye Kyo. Kyuhyun selalu memakai apa yang Hye Kyo pakai. Map ini dan jawaban yang sama, “… sekedar untuk menyimpan kertas-kertas”.
Dan untuk pertama kalinya selama tiga bulan terakhir, bukan karena Shindong lah yang mengajakku pergi untuk mengisi perutku, kurasa karena Ryeowook, sangat rindu dengan masakannya. Kurasa kami benar-benar terlalu berhemat, sehingga dalam tiga bulan ini kami hanya mengisi perut kami dengan ramen, sereal, atau roti tawar dengan selai kacang. Terkadang jika kami beruntung, Ryeowook akan memberi kami masing-masing satu butir telur mata sapi lengkap dengan hiasannya. Hanya aku membenci masakan itu. Ryeowook selalu menambahkan jerawat dari saos cabai pada kedua pipi muka tersenyum di atas telur sapiku, “Untuk vitamin tambahanmu..” katanya. Aku tidak mengerti apa hubungan jerawat dimuka itu dengan vitamin bagiku. Yesung kemudian mencubit kedua pipi Ryeowook dengan gemas, salut akan pekerjaan yang dilakukannya untukku, sambil terkikik geli. Benar-benar keterlaluan kedua pria itu. Sudahlah, itu tidak penting lagi untukku, aku kini sedang menikmati supku yang tentu lebih menambah kadar vitaminku daripada jerawat diatas telur mata sapiku. Menahan geli melihat Yesung dan Ryeowook saling munyuapkan makanannya ke dalam mulut masing-masing. Ryeowook dengan gaya keibuannya, menyuapkan sesendok sup pada Yesung, Yesung membuka mulutnya lebar-lebar, dan sendok itu serta isinya telah tumpah ke dalam mulutnya, kemudian meringis pada Ryeowook. Yesung, kukira dia akan melakukan hal yang sama seperti Ryeowook, menyuapkan sesendok sup ke mulutnya. Yesung mengambil sesendok sup dari mangkuk Ryeowook, begitu licik, dari dulu sifatnya tidak mau berubah, tidak ingin makanannya lebih dulu habis. Kemudian menyodorkan sendok isi sup pada Ryeowook dan dia membuka mulutnya lebar-lebar. Namun ia membalikan arah sendok itu ke arah yang berlawanan, dan sendok itu beserta isinya masuk ke dalam mulut Yesung. Terkekeh puas.
“Ya! Apa yang kalian lakukan?” Shindong, dia sangat sensitif jika seseorang bermain di meja makan.
“Hanya menyuapkan makanan kami” Ryeowook menambahkan, matanya masih terarah pada Yesung, dan terkikik lagi.
“Harus dengan cara seperti itu kah?” Aku yang sejak tadi hanya menahan tawaku agar tidak meledak melihat tingkah mereka, ikut angkat bicara.
“Lalu kenapa? Kita teman” Ryeowook masih menyuapkan supnya pada Yesung, mengusap ujung bibir Yesung yang sedikit basah terkena sup, lalu tertawa kecil. Yesung mencubit salah satu pipi Ryeowook, dan kembali memakan supnya.
“Hei! Bisa kah kau menghentikan itu?” Shindong menarik lengan Yesung yang hendak menyuapkan sesendok supnya pada Ryeowook, kurasa kali ini dia benar-benar akan melakukannya, namun gagal karena Shindong.
“Sudah lah. Aku akan menonton televisi saja” sela ku, masih menahan tawaku melihat muka Ryeowook yang berubah kusut dengan mulut monyongnya. Kurasa berkat Shindong melarang Yesung menyuapkan sup padanya, dia memasang muka kusutnya. Ku usapkan tisu ke ujung-ujung bibirku dan seluruh telapak tanganku, menghilangkan sisa-sisa makanan disana. Kemudian ku dorong ke belakang kursiku, dan beranjak pergi menuju ruang tempat dimana aku biasa menonton acara-acara yang cukup menghiburku. Kyuhyun, yang berada tepat di sebelahku, kurasa dia mengamati gerak-gerikku.
“Ng…Aku juga ingin menonton televisi saja” Kira-kira tiga menit kemudian dia mengatakan hal itu, bisa ku dengar suaranya dari ruang tivi ini.
Sekitar lima jengkal orang dewasa jarak dudukku dengannya. Sesekali aku mencuri pandang pada Kyuhyun, mengawasi gerak-geriknya. Sama seperti semenit, bahkan sedetik sebelumnya, sama sepertiku, rahangnya masih naik-turun, bergerak, berkonsentrasi dengan televisi dan makanan kecilnya. Dia juga memberiku sebuah, kripik kentang rasa barbeque, miliknya kurasa kripik kentang rasa rumput laut, ku lihat dari warna bungkusnya yang berwarna hijau muda. Favorit Hye Kyo, dia selalu memakannya bersamaku.
“Sangat membosankan” aku memulai, sedikit gugup, mencoba menenangkanku dengan terus memakan kripik kentang barbequeku.
“Begitulah” Aku saat itu sedang mencuri pandang terhadapnya, sialnya aku tertangkap basah, dan dia hanya tersenyum melihatku. Oh, bukan saat yang tepat untuk mengubah mukamu menjadi merah, Sungmin!
“Ng… Acara apa yang sebaiknya kita tonton?” Untung aku masih sanggup terus berbincag-bincang santai dengannya. Tanganku mulai mencari-cari pengendali televisi ini, meraba-raba dengan tanganku, kurasa aku meletakkannya tidak jauh dari jangkauanku. Dan kemudian aku merasakan sesuatu yang bukan persegi. Tanganku kurasa mengenggam tangan Kyuhyun, aku menoleh cepat kepadanya, cepat-cepat melepaskan genggaman tanganku dari tangannya. Kurasa kini mukaku benar-benar seperti kepiting rebus, merah menyala, karena malu. Aku mengalihkan pandanganku dari pandangannya, mengambil cepat-cepat bungkusan kripikku, dan meronggoh tanganku mengambil sisa-sisa kripikku. Ku rasa aku menjadi salah tingkah.
“Ng… Maaf, tidak sengaja” sahutku setelah mengumpulkan cukup tenaga untuk bisa mengeluarkan kata-kata lagi dari mulutku, mencoba untuk tetap bersikap biasa didepannya.
“Tidak apa-apa,” dia tersenyum menatapku dam mulai menambahkan,”Jadi, apa yang sebaiknya kita tonton?” Dia memegang pengendali televisi ini, mengarahkannya ke arah tivi dan memencet tombol-tombolnya, mengubah channel tivi secara acak.
“Ini saja” Jawabku saat ia tengah berada di channel yang menurutku cukup menghibur diriku, sambil masih terus sibuk menyomot kripik kentang rasa barbequeku. Kurasa itu cukup membuatku mengatasi kegugupanku.
Ku rasakan kripik kentangku mulai menipis. Benar-benar keadaan genting kurasa. Ku coba lambatkan laju kunyahku, mencoba lebih menikmati kripik ini, menyomotnya perlahan-lahan. Satu kripik kentang ku gigit dua kali kadang-kadang jika ukurannya lumayan besar aku gigit tiga kali tentu dalam ukuran kecil, menghemat persediaan kripik kentangku. Aku menatap layar televisi, kurasa boyband andalanku menempati urutan pertama di chart minggu ini. Aku tersenyum puas. Kemudian hanya untuk memastikan Kyuhyun masih berada sekitar lima jengkal dariku, ku putar tulang atlaku 45 derajat ke arah kanan. Sedikit tersedak, mata Kyuhyun menatapku tajam, membuat jantungku terhenti sesaat, dan kurasa wajahku kembali memerah. Aku hanya sanggup melirik sesekali ke arahnya, takut mata tajamnya menerkamku.
“A…apa yang kau lihat?”
Cho Kyuhyun, entah mengapa aku merasa tubuhnya mulai bergeser dari tempat duduknya. Sedikit demi sedikit, tubuhnya mulai mendekati tubuhku. Aku mendorong tubuhku ke belakang, mencoba menghindar dari tubuhnya yang makin lama makin mendekatiku. Keringat dinginku mulai bercucuran, jantungku berdetak tak teratur, hatiku entah timbul rasa senang dan sedikit gugup, sungguh aku sama sekali tidak tahu dengan apa yang akan dia lakukan padaku. Tubuhnya semakin mendekatiku dan sialnya aku, tidak ada tempat di belakangku lagi bagiku untuk mundur. Ujung sofa ini dapat kurasakan dengan punggungku. Oh, aku kini akan benar-benar akan mati di tangan Kyuhyun.
“Kyu…Kyuhyun-ah??” dan tangannya kini menyentuh ujung bibirku. Sementara keringat dinginku mulai bercucuran gugup, aku bisa merasakannya mengalir di dadaku.
“Ya !” Oh…tidak! Dia lagi, manusia yang membuat apartemen ini semakin sesak, Shindong. Kau tahu, itu semua karena ukuran badannya yang mungkin harus memakan tempat cukup luas. Apa aku terlalu berlebihan?
Sekejap Kyuhyun membenarkan posisi duduknya, menjauh dari tubuhku. Sementara aku sama sepertinya, membenarkan posisi tubuhku, mengusap keningku cepat, kemudian mengipasi wajahku dengan tanganku. Menghela nafas lega. Kurasa sebaiknya aku akan berterimakasih padanya, Shindong maksudku.
“Apa yang kalian lakukan?” Shindong, memulai aksinya mengintrogasi kami.
“A…ku aku hanya membersihkan sisa makanan di bibirnya” Kyuhyun angkat bicara. Sekejap tanganku meraba-raba sekitar bibirku, memastikan sisa kripik ini hilang.
“Benarkah itu, Sungmin-ah?” Sudah kutebak, dia tidak percaya padanya.
“Ne!” aku menjawabnya ketus.
ARGGHHH!!
Suara Ryeowook membuat kami, aku, Shindong, dan Kyuhyun menoleh ke arah sumber suara itu. Membuat Shindong melupakan tugasnya untuk mengintrogasi kami. Beruntungnya aku. Ku lihat Shindong mulai menggerakkan kakinya, hendak menuju ke arah sumber suara itu. Memastikan semua baik-baik saja. Ku palingkan pandanganku ke Kyuhyun, wajahnya ada yang berbeda, entah itu apa. Berdiri, kemudian menyusul Shindong ke arah sumber suara itu, tepatnya berada di kamarnya. Refleks aku mengikuti jejaknya.
“Ya! Waeyo?” Shindong, gayanya sudah seperti detektif-detektif kelas atas.
Aku terbelalak. Kurasa aku membuat mata sipitku membulat. Ku tutup mulutku, berusaha agar tidak ada suara keluar dari mulutku. Paku-paku payung bertebaran di bawah kasur Kyuhyun.
“Aku hanya ingin mencoba duduk di kasur Kyuhyun, karena terlihat begitu nyaman. Tidak ku sangka paku-paku ini berada di bawah seprai ini” Ryeowook mejelaskan, sementara Yesung yang bersamanya tengah sibuk memastikan keadaan Ryeowook. Melihat pantatnya, tangannya, perutnya, wajahnya, rambutnya, kakinya, hidungnya, segalanya. Kemudian sempat ku lirik mereka berpegangan tangan. Tangan Yesung berada di wajah Ryeowook, membisikkan kata-kata yang mungkin seperti gwenchana? Apa yang sakit? Dimana? dan sebagainya. Sementara Ryeowook hanya mengangguk-angguk, berusaha memberi tanda bahwa ia baik-baik saja. Kemudian mereka berpelukan. Ku palingkan pandanganku ke arah Shindong. Terlihat begitu heran dan entah aku tidak bisa menggambarkannya.
“Kau pelakunya!” tuduhku.
“Mwo? Apa maksud perkataanmu?”
“Ah, jangan pura-pura tidak tahu. Seharusnya aku telah menyadari hal ini dari dulu”
“Menyadari apa? Kau pikir aku pelakunya?” Kurasakan nada pembicaraannya mulai meninggi.
“Kau membenci Kyuhyun! Kau melakukan ini untuk menyakitinya bukan? Namun kau tidak berhasil melukainya, karena Ryeowook! Kau pikir aku tidak tahu soal ini!” Ku tinggikan beberapa oktaf suaraku, mataku membara, panas, tubuhku gemetar, hatiku dipenuhi rasa amarah.
“Aku memang membencinya! Tapi aku tidak pernah meletakkan paku payung ini di kasurnya! Jangan menuduhku!” Telunjuknya yang sebesar jempol kakiku diarahkannya tepat di wajahku.
“BOHONGG! Mengakulah, KAU PELAKUNYA!”
“Sekali lagi kau menuduhku, AKU AKAN PERGI DARI SINI!”
“SILAHKAN! AKU BAHKAN TIDAK MEMBUTUHKAN ORANG SEPERTIMU”
Dan saat itu ruangan kamar ini serasa luas. Shindong meninggalkan apartemen ini. Dan itu baik menurutku.
==TO BE CONTINUE==
Labels: Kyuhyun, Sungmin, Super Junior
